Jumat, 03 Januari 2014

Jangan Ada Kata Lelah Untuk illah




Inilah dakwah sobat ......dan kau lemah?
Jangan ! bangkitlah!
Sebelm seluruh harta diinfakkan kpd kaum muslimin seperti Abu Bakar
Sebelum seberani Ali bin Abi Thalib yg menggantikan jasad Rasulullah ktka dikejr musuh

Dan begitulah dakwah....
dan kau lelah?
jangan! semangatlah!
sebab perhentian abadi ketika kaki kita menginjak di jannah-Nya

Inilah dakwah dan kau lelah? 
Jika lelah berhentilah tapi tidak berlama -lama..tidak berleha-leha krn kewjiban lebih bnyk dr wktu  yg tersedia

Di sana masih ada orang yng memegang teguh prinsip
dan idealismenya
Tak kalah meski wktu telah hilang
Tak goyah walau rintangan menghadang
Andai kau lelah
Berhentilah....sejenak saja
Berhenti untuk menyusun kekuatan diri
menata lagi segala langkah, hati dan pikiran
setelah kuat bertumpuk
Bangkit segera
Bakar semangatmu!
Sambutlah kejayaan Islam
atau kita akan syahid dan berjumpa di Jannah-Nya



Nasehat di atas diperoleh dari blog tapi lupa namanya karena ga kecatet...afwan sekali:(


Kamis, 02 Januari 2014

Menunggu di Batas Waktu


Sosok sayu bersandar pada ilmu rabbani yang terpilih di sana
Menunggu waktu yang tepat untuk dipertemukan dengan tulang rusuknya
Dia mengharubiru di setiap goresan perjalanan hidupnya
Beribu harapan dan doa dipersembahkan kepada Maha Yang Menguasai Dunia
Menambatkan hati pada Illah-Nya
Memasrahkan diri pada Pencipta-Nya
Berharap mendapat yang terbaik dan paling baik menurut Yang Kuasa
Tak Perlu Ragu..Yakinlah
Tulang Rusuk itu datang sebagai cermin diri
Yang sholih untuk sholihah
Yang baik untuk yang baik
Seperti Ali bin Abi Thalib yang mendapatkan Fatimah Az Zahra
Seperti  Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan Siti Khadijah
Dan yakinlah....
Sungguh tiap-tiap diri ini sudah ditakdirkan dengan cerita tentang tulang rusuknya itu
Yang  dipertemukan oleh Allah di waktu yang tepat
Dan kondisi yang tepat pula
Tak  mungkin tertukar dengan yang lain
Sbar dalam perbaikan diri dan kebaikan  
Karena semua  akan indah pada waktunya

“Ya ALLAH datangkanlah ia, kala hati ini siap untuk menerimanya”

Eff
Terinspirasi dari seseorang

Selasa, 01 Januari 2013

Sudahkah kita seperti mereka?



BUKTI CINTA ABU BAKAR
www.google.com

Belajar dari cerita sahabat Rasulullah SAW. Banyak ibroh dan mutiara kata yang dapat kita petik dari setiap perjalanan hidup mereka. Sejengkal demi sejengkal jejaknya tak akan pernah luput untuk menyisakan berbagai asa indah dan ghirah diri. Mereka takkan pernah berhenti menunjukkan ketaatan dan kecintaan pada ALLOH SWT dengan penunjukan kecintaan kepada Rasul. Dan sudahkah kita seperti mereka? Hikz,,,hikz,,,(malu dengan yang membuat hidup). Kita janganlah kalah dengan Abu Bakar yang setia menjaga Rasul dalam keterjagaannya dalam tidur yang lelap dan Ali Bin Abi Thalib yang dengan keberaniannya menggantikan jasad Rasul ketika dikejar kaum kafir. Banyak  lagi cerita/shirah lain yang patut untuk kita jadikan renungan diri..dan jadikan tauladan untuk hidup kita.
Seperti bukti kecintaan Abu Bakar pada Rasulullah SAW.

Ketika Rasulullah berada di hadapan, 
Ku pandangi pesonanya dari kaki hingga ujung kepala 
Tahukah kalian apa yang terjelma? 
Cinta!
(Abu Bakar Shiddiq r.a
Gua Tsur.
Wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”. Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”.

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut, Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad.

Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dan keakraban mempesona itu bukan sebuah kebohongan. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta.

Sejeda kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar. Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah terpejam. Dengan hati-hati, seperti seorang ibu, telapak tangan Abu Bakar, mengusap peluh di kening Rasulullah. Masih dalam senyap, Abu Bakar terus terpesona dengan sosok cinta yang tengah beristirahat diam di pangkuannya. Sebuah asa mengalun dalam hatinya “Allah, betapa ingin hamba menikmati ini selamanya”.